Membandingkan Holland Bakery dan Bread Talk
Membandingkan Holland Bakery dan Bread Talk
(oleh: Suryadi)
Dua hari yang lalu, ketika mencuci tangan, tiba-tiba terbesit dalam pikiran, dan langsung kutanyakan kepada kakakku yang sedang mandi "Menurut lu, kalau gerai Holland Bakery dan Bread Talk di jakarta jumlahnya sama, dengan kondisi pasar seperti sekarang, siapa yang lebih untung ?" Dari situ, timbul diskusi dan pemikiran-pemikiran yang sederhana namun cukup menarik untuk disimak, setidaknya olehku. Tempat Bila dilihat dari segi tempat, mungkin keduanya memiliki kekuatan tersendiri. Bread Talk selalu tampil di mall-mall terkemuka, yang keramaiannya tidak perlu dipertanyakan. Lalu bagaimana dengan Holland Bakery ? Bukankah Holland Bakery menyewa satu gedung/ruko sendirian, dengan beberapa lantai ? Memang begitu adanya, tetapi dilihat dari harga sewa, menyewa gedung dan menyewa counter di mall sangatlah jauh perbedaannya. Di Senayan City, bisa habis 30-an juta/bulan utk sebuah counter ukuran 100 m2, CMIIW. Bread Talk memang selalu mengundang perhatian orang, walaupun orang tersebut tidak punya niat untuk membeli roti pada awalnya. Tetapi ketika ia melihat gerai Bread Talk, melihat antrean pengunjung, dan membaui roti-rotinya, bisa jadi niatnya berubah. Lain Bread Talk, lain Holland Bakery. Holland Bakery, di mata saya memiliki ke-eksklusif-an. Yang datang ke Holland Bakery, hanya yang ingin membeli roti/produk lain dari Holland Bakery, memang niat dari awalnya sudah ingin beli roti. Produk Ditilik dari produk, Bread Talk memiliki kelebihan dengan mengedepankan inovasi. Lihat saja roti-roti dengan varian rasa dan bentuk. Tidak pernah dijumpai sebelumnya. Coba ingat-ingat sewaktu gerainya pertama kali dibuka di Kelapa Gading, siapa yang tidak tahu roti abon Bread Talk ? Baik yang putih atau yg coklat, terkenal seantero Jakarta. Holland Bakery masih konvensional, masih dengan produk roti lama, yang belum ada inovasi. Tetapi ia menjual cake. Bread Talk di negeri asalnya pun menjual cake, tapi mungkin belum di-implementasikan di Indonesia. Trend Yang sedikit menjadi kekhawatiran saya adalah trend. Bread Talk, menurut ilham saya, merupakan awal dari trend bisnis roti. Terlebih dahulu ada trend Bubble Drink (Bubble Tea), Mr. Celup (sejenis sate tapi direbus). Setelah itu, menyusul donat (dimulai dari JCo). Dua bisnis pertama memang sudah menyurut, bahkan bisa dibilang mati. Dulu, di satu mall, kita bisa menjumpai banyak gerai penjual Bubble Drink. Tetapi sekarang, sudah berguguran. Saya kira trend bisnis roti dan donat, tidak demikian dengan trend sebelumnya. Karena Bread Talk sendiri sudah mulai dari 2003, sudah masuk tahun ke 4 berarti. Bread Talk Kakakku berkata bahwa dulu ia pernah dengar dari sebuah stasiun radio tentang strategi Bread Talk, yang sengaja mengeluarkan tidak semua produknya sekaligus, agar tercipta antrean. Dan dengan antrean itu, orang-orang akan berdatangan. Maklum, tradisi "yang rame itu yang enak" masih melekat di jiwa kita. Tetapi dengan menjamurnya bisnis roti, maka Bread Talk bukanlah satu-satunya pemain di bidang ini. Sebutlah Bread Story, Bread King, Bread Corner, dan masih banyak brand-brand yang ikut meramaikan peta persaingan bisnis roti. Gerai Bread Talk pun megah, penuh cahaya terang benderang dan desain yang modis. Seperti halnya entrepreneur yang terus berinovasi, Bread Talk mengeluarkan produk yang inovatif dan menarik. Tidak ada padanan dalam menu nya. Bahkan jika dalam 3 hari kita berkunjung ke gerai nya, kemungkinan ada menu yang selalu berbeda tiap harinya. Bread Talk merupakan merk franchise, jadi pasti ada franchise fee, jadi keuntungannya pun otomatis terpotong. Jangan lupa dengan konsep dapur terbuka dari Bread Talk, ini merupakan daya tarik tersendiri bagi bisnis roti yang satu ini. Holland Bakery Nama Holland Bakery, menurut saya, nama yang sudah terlanjur populer di benak konsumen. Brand imagenya kuat. Sama seperti Aqua dalam merk air mineral. Pernah kakak dari teman saya yang bersuamikan orang Belanda dan hidup di Belanda, singgah ke jakarta, ia membeli roti. Holland Bakery yang dipilihnya. Yah dari sedikit-banyak keuntungan 2 merk ini, saya akhirnya memutuskan bahwa jawabannya adalah Holland Bakery.
January 14th, 2007 at 8:36 pm
Menurut gue, setiap produk (apapun itu) pasti memiliki kompetitor. dan setiap produk juga memiliki keunggulan yang berbeda besa dan juga memiliki customer n pangsa pasarnya sendiri. begitu juga dengan bread Tlak ato Holland bakery. mereka memiliki target pasar dan masing2 memiliki Royal Customer jadi apaun produknya selama mereka memiliki stategi pemasaran yang baik maka akan tetap bertahan.
January 15th, 2007 at 10:41 am
thanx for your comment
January 17th, 2007 at 11:35 pm
wah … keduanya toko roti fav. ku, kalo holland emang semenjak kecil si uda demen, dan bread talk si karena gampang di akses a.k.a. dimana2 ada dan yah lumayan enak. Kalo mau buat perbandingan gimana antara Dunkin n J.co, itu baru mantapz, ato J.Co vs Krispy
January 21st, 2007 at 1:56 am
Yah, abis nya gimana donk Chiu, kepikirannya Holland Bakery dan BreadTalk. Soalnya Bread Talk kan yg duluan masuk. Anw seru juga tuh kalo dibuat perbandingannya, Dunkin dan JCo…
January 29th, 2007 at 9:21 pm
apa sih ngga jelas deh
October 26th, 2008 at 1:30 am
Casino 4903ad41de…
Casino 4903ad41de…
November 24th, 2008 at 3:09 am
perlu dilihat penetrasi pasar dari bread talk,
berapa lama dia perlu mengembangkan bisnis di jakarta dibandingkan dengan holland bakery? dari situ bisa dilihat mudahnya breadtalk berada di pangsa pasar yang terus2an berubah dan bosen pada suatu produk.
boleh di compare nanti siapa yang bakal survive lebih lama,
creative team nya si breadtalk atau consumer mind dari current costumernya si holland bakery.
btw making a bussiness as big as breadtalk diperlukan pemikiran2 baru dan cancing untuk survive selalu di pangsa pasarnya.
jadi gue ga percaya kalau pasarnya breadtalk bisa kalah sama holland.
paling gampang liat aja ke pangsa singapore dimana breadtalk udah ada di tiap mall.. dan penetrasi produk baru disana amat sangat gencar.
dia tetep survive.
kalau dari penetrasi pasar yang gila2an kaya sekarang padahal profit sudah dikurangin sama sewa tempat dan francishise fee’s, tetep bisa secepat itu merambah pasar.. kayanya holland yang harus hati2 kedepannya.
btw pernah coba roti di papaya blok m atau di dalem gedung nya starbuck melawai?
they have a great bread, one of the best di jakarta yang harganya selangit tapi selalu habis.
simple aja, yang enak dan murah pasti laku, yang enak banget dan terjangkau pasti laku abis, yang uenak polnya - maknyus bondan winarno walaupun harga selangit pasti dicari seantero jakarta yang orang2nya ini sangat konsumerisme.
sebelum market research, research the product first.
November 24th, 2008 at 3:18 am
btw gue lagi research buat product cake jadinya masuk ke weblog lu yad! hehe ajaib
November 27th, 2008 at 12:15 am
trims banget donny, ud mau mampir dan memberi komen yg kritis.
Tulisan ini gw buat waktu masih duduk di bangku kuliah, jadi… kalo banyak kekurangan, mohon dimaklumi hehe..
Memang nya mau bisnis cake don ? Silakan saja, tapi perlu USP dan cari niche market, spy bisa survive. Ganbatte !
December 9th, 2008 at 8:55 pm
pantes aja hahaha..
ga gue lagi research buat klien gue kok.
February 19th, 2009 at 12:50 am
roti2 bread talk yg baru2 ga ada yg enak…! smua rasanya aneh…
yg enak mlh ilang satu per satu.. skrg gw udah ga prnh lagi nemu magic apa tuh namanya gw sampe lupa… yg ayam lada hitam…
trus mau nyari roti pisang coklatnya aja susah banget……….
bread talk kan ada cake nya pak…?
dr dulu sampe skrg, favorit gw cuma pisang coklat… dan itu bermula dr holland bakery (ketauan nih angkatan brp wekekeke)
roti abon breadtalk ya ok lah enak, tp lama2 bosen jg gw hehehe…
July 7th, 2009 at 1:25 am
lu sih makan roti Lauw aja Che
wkkwkwkwkw