mintujuh’s area

Penuturan seorang lelaki biasa dengan kegiatan dan pemikiran yang luar biasa

Mencari pembantu rumah tangga yang rajin atau kita yang harus rajin ?

Bagi sebagian keluarga yang memiliki pembantu rumah tangga dalam rumahnya, pasti pertanyaan
di atas pernah muncul. ”Kenapa sih si X nyuci nya gak bersih ?” ”Kok bisa
luntur begini jeans gw ?” ”Barang-barang gw siapa yang pindahin?” dan sederetan
pertanyaan atau keluhan lainnya sering dilontarkan antar anggota keluarga.
Memang tidak dapat dipungkiri seorang PRT (pembantu rumah tangga) memiliki
kapasitas otak yang berbeda dengan majikannya, karena pendidikannya jauh
berbeda. Analoginya, kalau dia pintar, dia jadi sekretaris bukannya PRT, simpel
nya begitu.

Perlu pengertian yang mendalam, serta pemikiran
yang logis untuk ”mengerti” perilaku PRT kita di rumah
. Jaman sekarang ini, sulit mencari PRT. Apalagi
yang jujur, kerjaannya rapih. Jadi, kalau di rumah kita ada PRT yang sedikit
(maaf) bodoh, harap dimaklumkan. Memang pendidikan mereka tidaklah tinggi, dan
lingkungan tempat mereka dibesarkan jauh sekali berbeda dengan lingkungan kita.
Baik dalam strata sosial, ekonomi, kultur dan budaya.

Menjawab
pertanyaan di atas, apakah sebaiknya kita mencari PRT yang rajin dan kerjaannya
rapih atau sebaliknya, kita yang harus rajin dan mandiri ? Kembali ke kebutuhan
dan keadaan keluarga itu sendiri. Apabila memang tidak memungkinkan mengurus
urusan rumah tangga sendiri, baik mencuci, membereskan tempat tidur,
nyapu-ngepel, memasak, dll, ada baiknya memanggil PRT bulanan yang tinggal di
rumah kita. Pastinya dengan kriteria-kriteria tertentu, semisal: bisa masak,
bisa baca-tulis, punya pengalaman kerja sebelumnya di keluarga yang memiliki
kesamaan dengan keluarga kita. Poin terakhir menjadi penting, karena di
keluarga yang 1 dengan yang lain, aturan yang berlaku berbeda. ”Lain padang,
lain belalang” di rumah A, cucian yang telah digosok, dibiarkan menumpuk di
keranjang cucian, orang rumah yang memilih sendiri pakaiannya dan kemudian
memasukkan sendiri ke lemari pakaian yang disediakan. Sedangkan di rumah B, PRT
yang mengklasifikasikan pakaian si A masuk ke lemari pakaian si A, dan
seterusnya. Karena itu pengalaman diperlukan.

Analogi untuk
pertanyaan di atas adalah keluarga yang mandiri, cukup memiliki PRT yang job
desc nya cukup membantu. Untuk keluarga
yang aktifitasnya tinggi, perlu memiliki PRT yang tidak sekedar membantu, tapi
mampu mengurus rumah secara bersih, rapih dan rajin.

Maaf jika tulisan
ini menyinggung perasaan pembaca, tulisan ini murni argumen pribadi tanpa
bermaksud men-judge salah satu pihak ataupun menjelek-jelekkan satu pekerjaan.

Ini adalah komentar saya, saya sangat menerima kritik saran dan
tanggapan
dari pembaca. Silakan memberi komen di tempat yang telah disediakan.

START YOUR `BAD DECISION’ TODAY

Adnan Khasogi, yang termasuk
salah satu orang paling kaya di dunia,
pernah ditanya oleh wartawan tentang
rahasia suksesnya.

Adnan menjawab “Good Decision, Good Decision, and Good Decision”. Wartawan itu lalu bertanya lagi,
apa yang menyebabkan dia bisa membuat
keputusan yang tepat tersebut. Adnan menjawab “Experiences, Experiences,
and Experiences”.

Wartawan itu masih penasaran, dan bertanya, hal apa
yang menyebabkan Adnan mempunyai pengalaman. Adnan menjawab
“Bad Decision, Bad Decision,and Bad
Decision”.

Apa yang dikatakan oleh
Adnan Khasogi diatas menunjukkan bahwa kesuksesan yang diraihnya saat ini adalah hasil
dari kesalahan-2 tindakan yang pernah dialakukan sebelumnya,
proses belajar dari kesalahan-2 tersebut menjadi suatupengalaman, dan pengulangan tindakan menjadi lebih baik.

Kita selama ini selalu berpendapat,
bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Tapi banyak
orang yang keliru menafsirkan
definisi dari pengalaman itu sendiri.
Jika dalam kehidupan anda pernah patah hati
misalnya, apakah itu suatu pengalaman
?
Kalau patah hati itu membuat
kehidupan anda menjadi suram, dunia
terasa hampa, dan anda menjadi
enggan untuk berbincang dengan orang lain, itu bukanlah pengalaman.
Itu lebih tepat disebut tragedi.
Namun jika anda mau melihat
lebih dalam, apa yang salah dari

hubungan anda, dan belajar untuk tidak
mengulanginya lagi lain
kali, itulah pengalaman.

PENGALAMAN ITU BUKAN APA YANG TERJADI PADA
KEHIDUPAN KITA, NAMUN APA YANG KITA LAKUKAN KETIKA ADA SESUATU YANG TERJADI
DALAM KEHIDUPAN KITA

Ada sebagian orang yang ingin
jalan pintas di dalam hidupnya,
dimana mereka ingin langsung membuat `good decision’ dalam setiap langkahnya. Mereka ingin melompati
tahapan `experiences’ dan
`bad decision‘.

Karena ingin langsung sempurna, langsung sekali jadi, maka
mereka membuat banyak sekali analisa
dari berbagai sisi. Satu halangan
kecil bisa membuat mereka menunda membuat `good decision’ tersebut. Pada akhirnya,
`good decision’ itu tidak akan pernah

dibuat, karena waktu mereka habis untuk
selalu melakukan analisa dan analisa.

Coba amati di lingkungan sekitar kita. Adakah rekan
anda, kerabat atau kolega bisnis
yang seperti itu ? Lima tahun yang lalu mungkin mereka pernah
mengatakan akan menjadi seorang wirausaha. Tapi sampai hari ini keinginan itu tetap sebuah keinginan.

Mereka akan berkata bahwa ada hal-2 yang menghalangi niat mereka, apakah itu
pasar yang lagi sepi, harga bahan
baku yang mahal, krisis moneter, dollar lagi tinggi,
dsb.

Tapi sebenarnya bukan itu yang menghalangi mereka. Halangan mereka yang utama adalah mereka takut
bila ternyata `good decision’ yang mereka buat ternyata sebuah
`bad decision’.

Sebenarnya apakah yang menakutkan
dari membuat sebuah `bad decision’ ?

Sebenarnya `bad decision’ hanyalah sebuah
proses, dan tidak final sifatnya. Proses ini akan
menjadi kesalahan jika kita keliru
mempersepsikannya serta memberikan respon yang keliru. Dan kesalahan akan menjadi kegagalan
jika kita terus menerus memberikan
respon yang keliru terhadapnya.

Orang-orang sukses adalah mereka yang mengubah `bad decision’ menjadi suatu pelajaran, memperbaiki keputusan mereka dan melakukan
dengan cara yang berbeda.

Karena sesungguhnya, jalan menuju kesuksesan pasti melewati suatu kegagalan.

Hanya mereka yang berani
membuat `bad decision’ dan belajar daripadanya yang akan mencapai tujuannya.

Sukses untuk Anda !

Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja

Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya
yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa
pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi
dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang
terpenting adalah harganya yang luar biasa murah.

Hampir-hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian
rendah. Lalu apa untungnya? Wanita itu terkekeh menjawab, “Bisa numpang
makan dan beli sedikit sabun.” Tapi bukankah ia bisa menaikkan harga
sedikit? Sekali lagi ia terkekeh, “Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa
beli? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?” katanya sambil
menunjukkan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.


Ah! Betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja.
Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua di
atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang
penyangga yang menahan langit agar tak runtuh. Merekalah beludru halus yang
membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan
mengobati luka. Bukankah demikian tugas kita dalam kerja: menghadirkan secercah
kesejahteraan bagi sesama.

Thai Trip, Day one

sebenarnya, kejadian dibawah ini terjadi di awal bulan Mei, tapi penulisan yang terlambat menjadikan blog ini ditulis hari ini…

Arrive in

Bangkok

at 3 PM (local time). Perjalanan jauh yang terburu-buru menuju imigrasi.
Antrian panjang membuat semakin lamanya penantian ini, ditambah perubahan jalur
antrian oleh petugas dari Foreign Passport to Local Passport queue. Dibagi
menjadi 2 line. Karena cici dan nyokap pisah jalur denganku, otomatis gw duluan
yang selesai dari antrian passport check. Menuju baggage claim, lupa koper yang
warna apa ^__^! Untung inget, merk-nya
Polo. Diambilah koper besar, biru tua, merk Polo dengan id holder Microsoft
berisi id card cici. Nah yang satu lagi, lupa bentuk dan merk-nya, warnanya
doank yang inget, HITAM. Sekitar 5 menit, baru mami nyusul dan membantu nyari
bagasi yang 1 lagi. Kemudian cici nyusul juga, beberapa koper kemudian, barulah
koper yg dinanti baru muncul. Langsung meluncur ke Exit 2. mencari papan nama
bertuliskan nama nyokap di puluhan papan nama yang ada. Mudah ditemukan, karena
ada di tengah dan papannya jelas terbaca dari jauh. Seorang lelaki Thai
berkulit putih memegang papan nama itu. Keluarlah menuju pintu keluar, di
samping terdapat marketing-marketing dari hotel-hotel ternama, semua terlihat
memakai setelan rapi, minimal jas dan blazer. Shake hand dnegan Mr. Sopoon
(bukan spoon, hehe) langsung diajak ke lobi melwati escalator ke bawah. Nunggu
mobil di sederetan kursi perunggu sambil melihat orang lalu lalang dari belahan
Negara lain. Kulit hitam, putih, jilbab, keriting, botak, gimbal, negro,
Hispanic, melayu. Backpacker juga tampak. Sudah pakai “tas extra besar”, di depannya masih nempel tas ransel. Depan-belakang
tas, ngeliatnya ajah cape. Wuihhh !!!

Sesampainya Mr.
Sopoon langsung menuju mobil. Mobil van, kapasitas banyak, Nissan, spt LX
300-nya Mitsubishi, tapi much bigger. + 30 menit baru sampai hotel,
dengan penjelasan dari sang tour guide tentang destination selama di Thai.

Check-in,
beres-beres, mandi, langsung cabut menuju tempat makan. 6.30 PM di lobi hotel
bertemu kembali dnegan Mr. Sopoon. Ternyata oh ternyata, hotel itu menempel
dengan mall, layaknya Mangdu Square dengan hotel Mercure di kawasan Gunung
Sahari, jakarta. Melintasi booth-booth mall, sampailah di Foodcourt. Bingung
pilih makanan yang mana, semua bahasa Thai, hanya mengandalkan insting dan
gambar yang terpampang. Tak ada bahas inggris. Untung dibantu show food yang
tersedia di show case, tapi tidak semua booth menyediakannya. Terpilihlah kwee
tiauw siram babi, seharga 30 baht (@ Rp 300,-) + minum lemongrass pandan tea. Rasa
= sedap, nikmat, kenyang (ditambah kiriman nasi tetangga ^___^) & MURAH
CUIY
!!! 10rb dapet kwee tiauw babi, mana dapet di jakarta ???

Uniknya, sendok
garpu ambil sendiri dari satu wadah besar, di celup ke air panas untuk
mereduksi kuman bakteri.

Lanjut jalan ke
subway, perjalanan lumhay jauh, pakai coin RFID untuk mengakses subwaynya.
Subway nya enak banget !! jauh deh busway … hehe

Turun di pasar
malam yang asoy geboy gedebug enjoy.
Jalan sampai 10.30 PM, kaki pegel, telapak kaki sakit, kantong terkuras. Never
be-4 nie. Blanjaan uda banyak, kantong plastik ud >7 dah. Balik hotel dengan
subway lagi. Sempet foto-2 gokil di terminal subway dan inside subway. Pake
diliatin ABG Thai juga, hehe, serasa gw alien gitu ngeliatinnya. Biasa aja
kaleeee..

Sampe hotel,
lepas semua barang, ganti baju, cuci kaki, langsung manjain kaki. Disayang-sayang
biar bisa terus jalan besoknya. Wkwkkwkw

Rebahan enak banget dah. Abis itu lanjut tidur….

Kasih, puisi menjadi satu

Kasih itu lebih dari sekedar perasaan, kasih itu adalah suatu keputusan. Bukan kasih yang membuat suatu hubungan menjadi langgeng, melainkan komitmen kita terhadap janji yang diikrarkan. Karena itu pertimbangkanlah dengan baik sebelum membuat janji, jangan sampai kau ingkari suatu hari nanti dan akhirnya hanya merusak karya tanganmu sendiri

Cintaku kan ku brikan
Pada yang pantas mendapatkannya
Cintaku tulus dan lembut
Haruslah dapat hati yang layak

Maybe lucky Maybe Lucky, I dare say I’m lucky

Yup ! Itu adalah sepotong dari lirik lagu Stay Away yang dibawakan oleh band tenar dari Jepang, L’Arc~en~Ciel, biasa disebut Laruku. Trus, apa hubungannya dengan blog dan kehidupan gw ?
Jadi, 3 bulan belakangan ini, gw ngerasa beruntung. Why ? 6 kali ada quiz, gw menang dan dapet hadiah. 5 dari sms radio dan 1 dari website. Indika FM, Smart FM, PAS FM adalah 3 radio pemberi 5 hadiah. Portal kuliner, www.sendokgarpu.com yang dari website. Hadiah berupa 3 voucher makan, 1 CD audio, 1 voucher belanja di grup MAP, dan 1 buku terbitan Gramedia.
Dari quiz acara film (Movie Time - Indika FM), talkshow Marketing Marketing dengan Sharp (PAS FM), talkshow bisnis dengan Smart NACO (Smart FM), sampai obrolan dan quiz ringan (Indika FM) membuahkan hasil yang beragam.
Senang rasanya, menjadi orang yang cukup beruntung. Walaupun no XL ini jaringannya tidak baik, tapi ia berhasil menyumbangkan sejumlah hadiah, mengapa tidak terus dipakai ?

Agama baru = DotA

(perhatian tulisan ini hanya sekedar lelucon belaka)

Gallery_174689_3_34882_1Teman saya di kantor memiliki pemikiran yang sedikit eksentrik. Tiap kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak jauh dari DotA (WarCraft Defence of the Ancient). Memang sebagian orang kantor saya memainkan game tersebut. Sampai kami pun memiliki salam jika pagi-pagi bertemu, dengan menepukkan kepalan tangan kanan di dada kiri kami berseru dengan lantang "OWNING !!!"
Setelah berdiskusi dengan dia timbul untuk membuat sebuah agama baru, DotA. Dengan Tuhannya adalah Lich King yang duduk di singgasana Frozen Throne. Memiliki 8 Dewa besar seperti Zeus,… Dan 3 nabi besar yaitu Rhasta, …. Memiliki kitab suci Necrominicon. Dan mempunyai tempat ziarah Fountain of Health. Tidak lupa, ada sepasang malaikat Krobelus dan Lina Inverse.
Di agama ini juga mengenal setan, dengan Raja Setan Roshan dan 3 kaki tangannya yaitu Lucifer (setan api), Pudge (setan rakus), dan Pit Lord (setan kejam)


-will be concluded-

Ruangan

Di
antara  sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak
ada  ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh
dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti
yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut
pengarangnya atau topik buku menurut abjad.

Tetapi
arsip-arsip  ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke
langit-langit  dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling
dinding itu,  memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada
saat aku mendekati  dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik
perhatianku  berjudul “Cewek-cewek yang Aku Suka”. Aku mulai membuka
arsip itu dan  membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya,
karena terkejut  melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip
itu. Dan tanpa  diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti
aku ada  dimana.

Ruangan
tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip  yang kecil-kecil
merupakan sistem katalog bagi garis besar  kehidupanku. Di sini
tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam  kehidupanku, besar atau
kecil, dengan rincian yang tidak dapat  dibandingkan dengan daya
ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin  tahu, digabungkan dengan rasa
ngeri, berkecamuk di dalam diriku ket  ika aku mulai membuka
kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki  isi arsip ini. Beberapa
arsip membawa sukacita dan kenangan yang  manis; yang lainnya membuat
aku malu dan menyesal sedemikian hebat  sehingga aku melirik lewat bahu
aku apakah ada orang lain yang melihat  arsip ini.

Arsip
berjudul “Teman-Teman” ada di sebelah arsip  yang bertanda “Teman-teman
yang Aku Khianati”. Judul arsip-arsip itu  berkisar dari hal-hal biasa
yang membosankan sampai hal-hal yang aneh.  “Buku-buku Yang Aku Telah
Baca”. “Dusta-dusta yang Aku Katakan”.  “Penghiburan yang Aku Ber ika
n”. “Lelucon yang Aku Tertawakan”.  Beberapa judul ada yang sangat
tepat menjelaskan kekonyolannya:  “Makian Buat Saudara-saudaraku” .

Arsip
lain memuat judul  yang sama sekali tak membuat aku tertawa: “Hal-hal
yang Aku Perbuat  dalam Kemarahanku.” , “Gerutuanku terhadap
Orangtuaku”. Aku tak  pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip
ini. Seringkali di  sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang
suatu hal daripada yang  aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih
sedikit dari yang aku  harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi
kehidupanku yang telah aku  jalani seperti yang direkam di dalam arsip
ini.

Mungkinkah
aku  memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang
berjumlah  ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu
menegaskan  kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan
tanganku  sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda
tanganku  sendiri.

Ket
ika aku menarik kartu arsip bertanda  “Pertunjukan- pertunjukan TV yang
Aku Tonton”, aku menyadari bahwa  arsip ini semakin bertambah memuat
isinya. Kartu-kartu arsip tentang  acara TV yang kutonton itu disusun
dengan padat, dan setelah dua atau  tiga yard, aku tak dapat menemukan
ujung arsip itu. Aku menutupnya,  merasa malu, bukan karena kualitas
tontonan TV itu, tetapi karena  betapa banyaknya waktu yang telah aku
habiskan di depan TV seperti  yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

Ket
ika aku sampai pada  arsip yang bertanda “Pikiran-Pikiran yang Ngeres”,
aku merasa  merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya
satu inci,  tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah
kartu  arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis.
Aku  merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah
memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa
marah.

Satu
pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang  boleh melihat isi
kartu-kartu arsip in! Tak ada seorangpun yang boleh  memasuki ruangan
ini! Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan  mengamuk bagai
orang gila aku mengacak-acak dan melemparkan  kartu-kartu arsip ini.
Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip ini,  aku harus mengosongkannya
dan membakarnya. Namun pada saat aku  mengambil dan menaruhnya di suatu
sisi dan menumpuknya di lantai, aku  tak dapat menghancurkan satu
kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan  menarik sebuah kartu arsip,
hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat  baja ket ika aku mencoba
merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku  mengembal ika n kartu
arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan  kepalaku di dinding, aku
mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani  diri sendiri.

Dan
kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul  “Orang-orang yang Pernah
Aku Bag ika n Injil”. Kotak arsip ini lebih  bercahaya dibandingkan
kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan  hampir kosong isinya. Aku
tarik kotak arsip ini dan sangat pendek,  tidak lebih dari tiga inci
panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah  kartu-kartu itu dengan jari di
satu tangan. Dan kemudian mengalirlah  air mataku. Aku mulai menangis.
Sesenggukan begitu dalam sehingga  sampai terasa sakit. Rasa sakit itu
menjalar dari dalam perutku dan  mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh
tersungkur, berlutut, dan  menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai
perasaan yang memalukan  karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini
membayang di antara air  mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat
ruangan ini, tak  seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan  menyembuny ika n kuncinya. Namun ket ika aku menghapus air mata ini,  aku melihat Dia.

Oh,
jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh,  yang lain boleh asalkan jangan
Yesus! Aku memandang tanpa daya ket ika  Ia mulai membuka arsip-arsip
itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak  tahan melihat bagaimana
reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberan ika n  diri memandang wajah-Nya,
aku melihat dukacita yang lebih dalam dari  pada dukacitaku. Ia
nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati  kotak-kotak arsip yang
paling buruk.

Mengapa
Ia harus membaca  setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan
memandangku dari seberang  di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa
iba di mata-Nya. Namun itu  rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku
menundukkan kepalaku,  menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai
menangis lagi. Ia berjalan  mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya
dapat mengatakan banyak hal.  Namun Ia tidak berkata sepatah katapun.
Ia hanya menangis bersamaku. 

Kemudian
Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding  arsip-arsip. Mulai
dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil  satu arsip dan, satu
demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas  tanda tanganku pada
masing-masing kartu arsip. “Jangan!” seruku  bergegas ke arah-Nya. Apa
yang dapat aku katakan hanyalah “Jangan,  jangan!” ket ika aku merebut
kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya  jangan sampai ada di kartu-kartu
arsip itu. Namun demikian tanpa dapat  kucegah, tertulis di semua kartu
itu nama-Nya dengan tinta merah,  begitu jelas, dan begitu hidup. Nama
Yesus menutupi namaku. Kartu itu  ditulisi dengan darah Yesus! Ia
dengan lembut mengambil kembali  kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi.
Ia tersenyum dengan sedih dan  mulai menandatangani kartu-kartu itu.
Aku kira aku tidak akan pernah  mengerti bagaimana Ia melakukannya
dengan demikian cepat, namun  kemudian segera menyelesa ika n kartu
terakhir dan berjalan  mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku
dan berkata, “Sudah  selesai!”

Aku
bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar  ruangan itu. Tidak ada
kunci di pintu ruangan itu. Masih ada  kartu-kartu yang akan ditulis
dalam sisa kehidupanku. 

“Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga  Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang  percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”  (Yohanes
3:16)

(Diterjemahkan oleh Hadi
  Kristadi untuk
http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

Makan malam romantis yang lezat di Cilantro

Adalah portal kuliner yang memiliki url www.sendokgarpu.com yang akhirnya membawaku (dan pacarku) makan malam di Cilantro pada Sabtu 5 April 2008. Dimulai pada bulan Februari dimana pada portal tersebut diadakan sebuah quiz untuk mengirim puisi tentang cinta. Kegemaran menulis puisi langsung gw tumpahkan, disamping mengirim hasil karya dari sebuah puisi cinta yang telah kubuat untuk pacar tersayang. Beberapa puisi telah kukirim, dan hasilnya saat pembacaan pemenang, namaku tercetak sebagai salah satu pemenang yang berhak mendapat voucher makan di Cilantro.
Reservasi tempat 1 hari sebelumnya. Dan pd pk 18.45 sampailah di sana, tempat yang sangat cozy dan nyaman, dengan penerangan yang agak redup, tetapi pemandangan yang fantastis, bisa melihat kota Jakarta di malam hari yang kaya akan lampu gemerlapan. Sangat indah dan romantis. Meja coklat di lengkapi dengan kursi empuk berwarna hijau, dihiasi bunga, nyala api dan sebotol wine. Pelayanannya pun sangat memuaskan, semua pelayan nya sangat ramah dan baik hati. Yang kupesan: Yam Ma Muang, Deep Fried Prawn with Mayo, Deep fried Pork Ribs, Braised Bean Curd, dan minuman Anastasi dan Buble Rose. Kebetulan bulan April ini ada disc 35% utk setiap transaksi tanpa syarat. Jadi, voucher yg kudapat terpaksa kusimpan utk lain kali.
Enak tidak cukup menggambarkan rasa dari makanan yang kusantap bersama pacar di Cilantro. Gurih, lezat, nikmat, paduan bumbu yang sedap, diracik dengan begitu profesional. Memang Tuhan sangat hebat menciptakan koki-koki yang bisa membuat makanan begini lezatnya. Minumannya pun tak kalah enak. Anastasia paduan beberapa jus, sangat manis dan menyegarkan, membuat nagih. Di lantai 47, terdapat lounge untuk bersantai yang dilengkapi dengan baby grand piano. Suasananya jauh lebih santai dibanding restaurantnya, dengan view yang sama dan service yang tidak berbeda.
Dari segi harga, memang mahal, tapi menurutku sangat worthed dengan yang didapat. Apalagi tax yang diberikan hanya 10%, di bon di stempel NO SERVICE CHARGE. Memang resto pilihan !
Utk Cilantro, rating kuberi:
Food *****
Service *****
Place *****
Price *****

Cilantro, Level 46-47 Wisma BNI 46, Jl Jend Sudirman kav 1. 251 2822

Pengamen Jaman Sekarang

24/03/2008

Pk 22.00 lewat saat kulihat jam tanganku. Sambil duduk termangu di P20, sepulang beraktivitas seharian. Di jalan raya Mampang, naiklah 3 orang pengamen. Suaranya sayup terdengar saat memberi salam. Karena duduk paling depan, otomatis sulit sekali melihat tampang dan permainan mereka. Hanya dari spion atas kudapat melihat seperangkat perkusi (gabungan beberapa snare) dan gitar. Kukira satu lagi adalah penyanyi. Saat melantunkan lagu, kudengar jelas bunyi biola. Dengan dentuman snare, embuat suara gaduh yang tidak jelas. Selang 10 detik kemudian, barulah lagunya masuk, ternyata yang tadi hanya intro. Lagunya adalah hits single Bond (sekelompok wanita yg bermain alat musik gesek) di album pertamanya, Victory. Aku hafal sekali dengan nada-nada khas di lagu itu. Teringat video klip yang mempertontonkan orang-orang berdansa dan grup wanita itu bermain dengan liar di laut yang dangkal. Pikirku, hebat sekali ada pengamen yang membawakan lagu seperti itu. Lagu ke 2 tidak kalah hebatnya, Feather dari The Corrs, sebuah lagu instrument yang kental dengan alunan violin.
Setauku itu adalah bukan musik biasa dan tidak bisa dibilang mudah untuk membawakannya. Walau tidak persis 100% tapi uang seribu cukup untuk mereka dapatkan dari kantongku.
Seingatku hanya beberapa kali pengamen yang ibsa menggugah hatiku. Yang paling membekas di ingatan adalah sewaktu SMP, sepulang sekolah naik Metro Mini 75. Sang pengamen membawakan ending song dari serial anime Mojacko, versi Indonesia
“Planet Venus yang indah, seperti dari emas.
Mengitari planet Saturnus, bersama-sama”
Pernah juga waktu menuju daerah Blok Q, ada yang membawakan lagu Glen. Tapi ini kan lagu pada umumnya. Kalau lagu Bond, The Corrs, soundtrack anime barulah bisa disebut sedikit nyeleneh di blantika musik pengamen.
Hmm… sayang 90% perjalananku sekarang tidak pakai bus reguler yang notabene ada pengamennya. Pulang pergi selalu naik busway. Jadi pengen denger alunan musik pengamen deh, tentunya dengan musik yang tidak biasa.